Menaggapi pertanyaan dan komentar Saudari Kuat Prabawati atas review yang berjudul Identifikasi Enterobacter sakazakii Sehubungan Dengan Spesies Enterobacter Dan Citrobacter muncul beberapa pertanyaan antara lain:
1. Secara taksonomi, E. sakazakii itu seperti apa?
2. Apa itu tipe Enterobacter sakazakii urutan16S rDNA?
3. Hasil identifikasi kenapa E. sakazakii dikatakan serupa dengan Cirobacter koseri atau dengan Enterobacter cloacae atau pun C. freundii?
4. Mengapa bakteri E. sakazaki ini dapat menimbulkan sejumlah penyakit seperti peradangan saluran pernafasan bahkan meningitis?
5. Zat atau bagian apakah pada E. sakazaki yang dapat menyebabkan penyakit tersebut?
- Gejala-gejanya penyakitnya seperti apa???
Bakteri Enterobacter sakazakii baru dinyatakan sebagai spesies tersendiri pada 1980 oleh Farmer dkk. Namanya E. sakazakii, untuk menghormati ahli taksonomi bakteri Jepang, Dr Riichi Sakazakii (1920-2002). Klasifikasi dari bakteri ini yaitu:
Kingdom : Bacteria
Filum : Proteobacteria
Kelas : Gamma Proteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Famili : Enterobacteriaceae
Genus : Enterobacter
Enterobacter sakazakii pertamakali ditemukan pada tahun 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. E. sakazakii adalah suatu kuman jenis gram negatif dari family enterobacteriaceae. E. sakazakii merupakan salah satu patogen yang pada tahun 1980 dipisahkan dari spesies Enterobacter cloacae, berdasarkan pada genetik penyusunnya, perbedaan analisa hibridasi DNA, reaksi biokimia dan uji kepekaan terhadap antibiotika. Disebutkan dengan hibridasi DNA menunjukkan E sakazakii 53-54% dikaitkan dengan 2 spesies yang berbeda genus yaitu Enterobacter dan Citrobacter. Sebelumnya E. sakazakii dikenal dengan yellow-pigmented cloacae yang pertama kali dilaporkan oleh Pangalos (1929). E. Sakazakii dimasukkan dalam tren perkembangan patogen dunia sejak tahun 2005 dan banyak diulas oleh para peneliti dari seluruh dunia. E. sakazakii menjadi perhatian karena tingkat mortalitas yang tinggi (40-80%) pada bayi yang baru lahir (0-6 bulan), terutama sekali bayi prematur atau yang memiliki imunitas lebih rendah dari rata-rata bayi-bayi lainnya.
Penelitian tahun 2007, beberapa peneliti mengklarifikasi kriteria taxonomy dengan menggunakan cara lebih canggih yaitu dengan f-AFLP, automated ribotyping, full-length 16S rRNA gene sequencing and DNA-DNA hybridization. Hasil yang didapatkan adalah klasifikasi alternative dengan temuan genus baru yaitu Cronobacter yang terdiri dari 5 spesies. Hingga saat ini tidak banyak diketahui tentang virulensi dan daya patogeniotas bakteri berbahaya ini. Bahan enterotoxin diproduksi oleh beberapa jenis strains kuman. Dengan menggunakan kultur jaringan diketahui efek enterotoksin dan beberapa strain tersebut. Didapatkan 2 jenis strain bakteri yang berpotensi sebagai penyebab kematian, sedangkan beberapa strain lainnya non-patogenik atau tidak berbahaya.
E. sakazakii berkembangan optimal pada kisaran suhu 30-40°C. Waktu regenerasi bakteri ini terjadi setiap 40 menit jika diinkubasi pada suhu 23°C, yang tentunya akan sedikit lebih cepat pada suhu optimum pertumbuhannya. Kontaminasi satu koloni E. Sakazakii memiliki peluang hidup maksimum sebesar 6.5% untuk dapat berkembang hingga mencapai jumlah yang signifikan (1 juta sel/g produk) dalam waktu maksimal 100 jam pada suhu 18-37°C. Artinya, apabila 1 sel hidup E. sakazakii mengkontaminasi produk susu formula pada proses produksi. Hanya dalam 5 hari, produk tersebut telah menjadi sangat berbahaya bagi bayi
Selain bersifat invasif, E. sakazakii juga memproduksi toksin (endotoxin) yang juga berbahaya bagi mamalia yang baru lahir dan belum memiliki sistem kekebalan yang baik. Ada kecurigaan bahwa bakteri ini bersifat airborne (mengkontaminasi lewat udara) pada industri susu dan rumah tangga. Gejala keracunan yang ditimbulkan oleh susu formula bayi tidak disebabkan oleh komponen biokimia atau bahan yang terkandung di dalamnya. Manusia dapat mengalami gejala keracunan karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri. Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri, karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang.
Meskipun infeksi karena bakteri ini sangat jarang, tetapi dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat) , dan necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing. Secara umum, tingkat kefatalan kasus atau resiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar antara 40-80% pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena penyakit ini. Infeksi otak yang disebabkan karena E. sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak (kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan gejala sisa gangguan perkembangan.
Sifat bakteri ini invasif dan memproduksi endotoksin dan zat beracun yang disebut enterotoksin. Bakteri ini tergolong ganas karena kemampuannya dalam memengaruhi bakteri lain, misalnya Escherichia coli, untuk memproduksi racun yang sama. Menurut dr. Dwi Wastoro Dadiyanto, SpA(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Tengah, gejala yang dapat timbul pada manusia akibat infeksi bakteri ini antara lain:
1. Nafsu makan hilang
2. Suhu tubuh terganggu.
3. Jika berat, infeksi dapat mengakibatkan meningitis (radang selaput otak) sehingga dapat mengganggu sistem saraf pusat.
Gejala-gejala lain yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya adalah diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang. Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling beresiko untuk mengalami infeksi ini. Meskipun juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis (infeksi tulang) pada penderita dewasa. Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E. sakazakii untuk bertahan hidup pada suhi 58 C dalam proses pemanasan rehidrasi susu formula.
E. sakazakii merupakan bakteri yang berkoloni di dalam saluran pencernaan manusia dewasa. Spesies Enterobacter ini dapat ditemukan di produk pangan lain selain susu formula: keju, daging, sayuran, biji-bijian, kondimen dan bumbu-bumbuan. Selain E. sakazakii, bakteri lain yang sering mengkontaminasi susu formula adalah Clostridium botulinu,Citrobacter freundii, Leuconostoc mesenteroides, Escherichia coli Salmonella agona, Salmonella anatum, Salmonella bredeney, Salmonella ealing, Salmonella Virchow, Serratia marcescens, Salmonella isangi dan berbagai jenis Salmonella lainya.
PROSES PENCEMARAN
Terjadinya kontaminasi bakteri dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya. Bakteri ini ikut terbawa dengan susu ketika diperah. Meskipun demikian, aplikasi teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan penggunaan mesin pemerah susu, sehingga susu yang keluar dari puting tidak mengalami kontak dengan udara.
Pencemaran susu oleh mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama pemerahan (milking), penanganan (handling), penyimpanan (storage), dan aktivitas pra-pengolahan (pre-processing) lainnya. Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang steril dari hulu hingga hilir, sehingga bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam susu. Peralatan pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan penyimpanan dalam temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara yang terdapat dalam lingkungan di sekitar tempat pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari susu. Proses pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam ruangan tertutup.
Manusia yang berada dalam proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi penyebab timbulnya bakteri dalam susu. Tangan dan anggota tubuh lainnya harus steril ketika memerah dan mengolah susu. Bahkan, hembusan napas manusia ketika proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi sumber timbulnya bakteri. Sapi perah dan peternak yang berada dalam sebuah peternakan harus dalam kondisi sehat dan bersih agar tidak mencemari susu. Proses produksi susu di tingkat peternakan memerlukan penerapan good farming practice seperti yang telah diterapkan di negara-negara maju.
YANG PERLU DIPERHATIKAN OLEH MASYARAKAT ADALAH
1. Kontaminasi Enterobacter sakazakii berbahaya bagi bayi usia 0-6 bulan dan merupakan ancaman bagi bayi pada usia 6-12 bulan, terutama bayi lahir prematur atau bayi dengan daya tahan rendah.
2. Tidak perlu cemas karena keberadaan E. sakazakii di dunia dan di Indonesia hanya berada pada kisaran rendah (20%) dari populasi produk susu formula, dapat ditemukan secara sporadis, tidak tergantung dari brand produk tersebut.
3. E. sakazaki banyak pula ditemukan pada produk lainnya seperti keju, daging, hingga sayuran.
SARAN YANG DAPAT DIIKUTI
Adapun saran pencegahan yang saat ini dapat dilakukan oleh para konsumen adalah:
1. Bila sebelumnya susu bayi cukup dicampur dengan air hangat, maka sekarang cobalah untuk merendam susu bubuk dengan air panas (85-100°C) selama 1-2 menit sebelum ditambahkan air dingin untuk mereduksi jumlah koloni hidup bakteri.
2. Tidak menggunakan produk susu bubuk yang kemasannya telah terbuka cukup lama (lebih dari 8 hari) atau dibeli dalam kemasan yang sudah tidak baik atau bocor.
3. Simpanlah susu bubuk yang telah dibuka kemasannya di dalam lemari pendingin (suhu <5°C) untuk mencegah pertumbuhan mikroba, bukan hanya E. sakazakii.
4. Cucilah bahan makanan yang biasa dimakan mentah dengan sanitiser, bukan hanya air mengalir, untuk mereduksi kontaminasi mikroba pada bahan pangan tersebut.
5. Konsultasikan dengan dokter/tenaga medis terhadap penggunaan susu formula bagi bayi berusia 0-6 bulan, terutama sekali bayi lahir prematur atau yang memiliki daya tahan lemah.
6. Waspada terhadap gejala demam dan diare yang merupakan indikasi infeksi, apapun mikroorganismenya, bukan hanya E. sakazakii
JURUS SAKTI PENAKLUK E. SAKAZAKII
Agar terhindar dari infeksi bakteri E. sakazakii, usahakanlah untuk memberikan ASI eksklusif untuk bayi. Percayalah, hanya ASI yang terbaik untuk buah hati tercinta kita. Namun bila terpaksa memberikan susu formula, ada beberapa cara yang direkomendasikan oleh WHO (2007) untuk mengurangi kemungkinan tercemarnya susu bubuk atau susu formula yang kita beli:
1. Siapkanlah susu di daerah atau tempat yang benar-benar bersih (higienis).
2. Cucilah tangan sebelum mempersiapkan susu.
3. Rebuslah botol minuman bayi terlebih dahulu sampai mencapai suhu 100 derajat celcius sebelum digunakan.
4. Buatlah susu untuk sekali minum, usahakan jangan sampai ada sisa sedikitpun, bila tersisa, hendaknya langsung dibuang.
5. Didihkanlah air hingga mencapai suhu 70 derajat Celcius, barulah dicampur dengan susu formula.
6. Usakanlah agar susu yang telah dibuat dapat dihabiskan maksimal dalam waktu 4 jam setelah dibuat. Bila tidak segera diminum, simpanlah di kulkas atau tempat yang bersuhu di bawah 10 derajat Celcius. Jangan berikan pada buah hati kita bila disimapn sudah lebih dari 24 jam.
7. Bersihkan dan rebuslah (sterilkan) peralatan untuk mempersiapkan makanan bayi kita secara rutin dan teratur.
Milk Contaminants in infant formula that caused infections
|
Contaminant
|
Number of Outbreaks
|
|
|
Bacteria
|
|
Clostridium botulinum
|
one infection? ( UK , 2001)
|
|
Enterobacter sakazakii
|
several (various countries)
|
|
Salmonella agona
|
one ( France , 2005)
|
|
Salmonella anatum
|
one (UK / Europe, 1996)
|
|
Salmonella bredeney
|
two (Australia, 1977; France / UK, 1988)
|
|
Salmonella ealing
|
one ( UK , 1985)
|
|
Salmonella london
|
one ( Korea , 2000)
|
|
Salmonella tennessee
|
one (USA / Canada, 1993)
|
|
Salmonella virchow
|
one ( Spain , 1994
|
Contaminants in infant formula that caused infections in hospitals
|
Contaminant
|
Number of Outbreaks
|
|
Citrobacter freundii
|
one
|
|
Enterobacter sakazakii and Leuconostoc mesenteroides
|
one
|
|
Enterobacter sakazakii ****
|
several
|
|
Escherichia coli
|
one
|
|
Salmonella isangi
|
one
|
|
Salmonella saintpaul
|
one
|
|
Serratia marcescens
|
one
|
Demikian sedikit informasi yang dapat saya berikan. Untuk pertanyaan yang belum bisa saya jawab, akan digahas pada lain waktu atau bisa tanyakan langsung ke Bapak Dr. Hendro Pramono, MS. selaku dosen mata kuliah mikrobiologi dasar…hehe